Tampilkan postingan dengan label berita harian viral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita harian viral. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 Agustus 2017
Thermo Couple (Termo Kopel) sensor Suhu dan cara pemasangannya
Bagaimana Prinsip kerja Thermo Couple (Termo Kopel) dalam mengukur suhu, dan bagaimana cara pemasangannya?
Termo kopel (Thermo Couple) dan cara pemasangannya.
Seperti yang kita ketahui, bahwa terdapat berbagai macam Alat ukur yang dapat kita gunakan untuk mengetahui atau mengukur suhu dari suatu benda, antara lain:
Thermometer Liquid
Thermocouple
RTD (Resistance Temperature Detector)
Infrared Thermometer
Dan lainnya
Baca juga: Sensor Suhu RTD dan cara memasangnya
Thermo Couple (Termo Kopel)
Salah satu alat ukur suhu yang banyak digunakan di dunia industri selain RTD, adalah Thermo Couple (Termo Kopel).
Thermo-Couple, berasal dari 2 kata, yakni Thermo berarti Panas, dan Couple artinya sepasang (dua).
Thermo Couple (Termo Kopel) adalah: sejenis alat yang digunakan untuk sensor suhu.
Thermo Couple (Termo kopel) terbuat dari 2 (dua) jenis bahan Konduktor yang berbeda, yang jika dipanaskan, kedua bahan konduktor tersebut akan menghasilkan perbedaan potensial (tegangan).
Besarnya tegangan yang dihasilkan dari Thermo Couple (Termo kopel), berbanding lurus dengan perubahan suhu yang diterimanya.
Setiap peningkatan suhu 1 derajat celcius, nilai tegangan yang dihasilkan Thermo Couple (Termo Kopel) akan bertambah sekitar 1-70mikro volt.
Prinsip kerja dan cara Pemasangan Thermo Couple (Termo Kopel)
Jenis-jenis Thermo couple
Thermo couple memiliki berbagai jenis, antara lain:
Tipe K (CA) H
CA : (Chrome/Alumel)
Temperature range: -300⁰C sampai 1.300⁰C
Tipe K (CA) L
CA : (Chrome/Alumel)
Temperature range: -100⁰C sampai 999,9⁰C
Tipe J (IC) H
IC : Iron/Constanta
Temperature range: 0⁰C sampai 800⁰C
Tipe J (IC) H
IC : Iron/Constanta
Temperature range: 0,0⁰C sampai 800,0⁰C
Tipe R (PR)
PR : Platinum/Rhodium
Temperature range 0⁰C sampai 1.700⁰C
Tipe E (CR) H
CR : Chromel/Constanta
Temperature range: 0⁰C sampai 800⁰C
Tipe E (CR) H
CR : Chromel/Constanta
Temperature range: 0,0⁰C sampai 800,0⁰C
Tipe T (CC) H
CR : Chromel/Constanta
Temperature range: -200⁰C sampai 400⁰C
Tipe T (CC) L
CR : Chromel/Constanta
Temperature range: -199,9⁰C sampai 400,0⁰C
Tipe S (PR)
PR : Platinum/Rhodium
Temperature range: 0⁰C sampai 1.700⁰C
Tipe N (NN)
NN : Nicrosil/Nisil
Temperature range: 0⁰C sampai 1.300⁰C
Bagaimana cara mengetahui suhu benda yang diukur dengan Thermo couple (Termo Kopel)?
Prinsip kerja Thermo Couple hanyalah sebagai Sensor (detector), dengan merubah suhu yang diterimanya menjadi nilai tegangan (Volt).
Sehingga untuk dapat melihat hasil pengukuran suhu, dibutuhkan tambahan Alat yang biasa disebut dengan Temperature controller.
Temperature Controller
Temperature controller berfungsi untuk menerima sinyal dari Thermo couple berupa Tegangan (Volt), kemudian Controller tersebut akan melakukan perbandingan sesuai dengan pengaturan dan data yang kita masukkan, lalu hasil perhitungan akan ditampilkan controller,berupa nilai Suhu yang diukur.
Jadi, Untuk dapat mengetahui hasil pengukuran Suhu , tak cukup hanya menggunakan Thermo couple, Thermo couple membutuhkan perangkat tambahan agar kita dapat melihat hasil pengukurannya, alat tersebut biasa disebut Temperature Controller.
Prinsip kerja dan cara Pemasangan Thermo Couple (Termo Kopel):
Material yang dibutuhkan:
Thermo couple (Termo kopel)
Temperature Controller
Kabel
Langkah Pemasangan:
Pasang Sensor Thermo Couple (Termo Kopel) di tempat yang ingin diukur
Pasang Temperature Controller di tempat yang diinginkan, dengan tujuan untuk mempermudah melihat tampilan hasil pengukuran.
Pasang kabel pada masing-masing terminal, pada Thermo couple dan terminal kabel yang ada pada Temperature Controller.
Sesuaikan Polaritas yang biasanya sudah terdapat pada masing-masing terminal kabel.
Terminal kabel dengan Polaritas positif (+) pada Thermo couple dihubungkan pada terminal positif (+) pada temperature controller. begitu juga dengan terminal negatif (-) pada Thermo couple dihubungkan pada terminal bertanda (-) pada Temperature controller.
Pastikan pemasangan pada temperature controller sudah benar pada terminal kabel yang diberi label TC (Thermo Couple).
Lalu sesuaikan pengaturan atau data yang ada pada temperature controller.
Pengaturan pada Temperature Controller
Beberapa data yang harus disesuaikan pada temperature controller, antara lain:
Input Sensor
Masukkan data tipe sensor Thermo couple, jika Thermo couple yang digunakan adalah Tipe K(CA)H, maka pilih menu Input sensor K(CA)H pada temperature controller.
Sensor Range
Masukkan data Sensor range Thermo Couple pada temperature controller.
Unit
Masukkan pilihan Unit yang tersedia pada temperature controller, jika ingin menampilkan suhu dalam skala Celcius, maka pilih unit ⁰C, jika ingin menampilkan suku skala fahrenheit maka pilih menu Unit ⁰F.
Semoga bermanfaat!
Pemasangan Sensor Suhu RTD dan Temperature Controller
Pemasangan Sensor Temperatur dengan menggunakan RTD dan Temperature Controller, serta cara menyesuaikan pengaturannya.
Untuk dapat mengetahui besaran suhu (Temperatur) suatu benda, tentunya dibutuhkan suatu alat ukur yang biasa disebut dengan Thermometer.
Berbagai macam Alat ukur suhu (Thermometer) yang dapat kita gunakan, salah satunya adalah Sensor temperatur RTD.
Baca juga; Termo Kopel dan cara pemasangannya
Sensor Suhu RTD
RTD adalah singkatan dari Resistance Temperature Detector, atau dapat diartikan sebagai deteksi/sensor Temperature dengan prinsip perubahan nilai Resistan (Ohm).
RTD merupakan suatu alat yang digunakan untuk deteksi/sensor suhu dengan menggunakan prinsip perubahan nilai Resistan, bahan sejenis penghantar di dalam RTD memiliki Nilai Resistan yang dapat berubah sesuai dengan suhu/panas yang diterimanya.
Semakin tinggi nilai suhu yang diterima RTD, maka Nilai Resitan yang dihasilkan juga akan semakin bertambah.
Kemudian perubahan Nilai resistan yang dihasilkan RTD tersebut akan dikonversikan untuk mendapatkan nilai suhu yang diukurnya.
Untuk dapat mengetahui Hasil pengukuran Suhu dengan menggunakan RTD, dibutuhkan tambahan peralatan lainnya yang disebut dengan Temperature Controller.
Temperature Controller inilah yang nantinya akan menerima sinyal dari RTD berupa nilai resistan, dan kemudian mengubahnya dalam bentuk satuan Suhu sesuai dengan suhu benda yang diukur.
Jadi, RTD hanya berfungsi sebagai sensor suhu dan mengubahnya kedalam satuan resistan (Ohm).
Sedangkan untuk dapat melihat hasil pengukuran yang sebenarnya, maka harus menggunakan alat yang disebut dengan Temperture Controller.
Untuk lebih jelasnya, dapat kita lihat Diagram berikut ini:
Bagaimana cara menggunakan RTD untuk mengukur suhu?
Untuk dapat melihat hasil pengukuran Suhu (Temperatur) dengan menggunakan sensor suhu RTD, Tentunya kita harus mempersiapkan beberapa komponen, antara lain:
Komponen yang dibutuhkan
Sebuah RTD sensor
RTD yang banyak digunakan adalah RTD PT 100 3 wire.
RTD PT 100 3 Wire, artinya RTD yang memiliki nilai resistan sebesar 100 Ohm pada suhu 100⁰C, dengan 3 kabel.
Temperature Controller
Kabel 3 x 1,5mm (sebaiknya menggunakan Screen Cable)
Cara pemasangan sensor suhu RTD dan Temperature Controller
Pasang Sensor RTD pada tempat atau benda yang akan diukur, kemudian pasang kabel-kabel pada terminal RTD.
Pasang Temperature Controller pada tempat yang anda inginkan untuk dapat dengan mudah melihat tampilan hasil pengukuran suhu.
Pasang ketiga kabel tersebut pada terminal yang tersedia pada Temperature Controller.
Pasang ujung kabel lainnya di terminal kabel yang tersedia pada Temperature Controller.
Pastikan posisi kabel yang terpasang pada terminal RTD sudah sesuai dengan posisi pemasangan kabel pada terminal Temperature Controller.
Lalu, sesuaikan pengaturan yang ada pada Temperature Controller dengan jenis RTD yang anda gunakan.
Untuk lebih jelasnya, anda dapat melihat gambar contoh cara pemasangan RTD sensor dan Temperature Controller dibawah ini:
Dari Gambar diatas, dapat kita lihat, cara penyambungan RTD 3-Wire ke Terminal kabel yang ada pada Temperature Controller.
RTD yang digunakan diatas adalah RTD 2xPt100, sehingga ada 3 terminal lagi yang juga dapat digunakan untuk aplikasi controller lainnya, namun pada prinsipnya cara penyambungan kabel Pt100 dengan 2xPt100 adalah sama, selama RTD yang digunakan adalah tipe 3-Wire.
RTD 2xPt100 artinya ada dua sensor Pt100 didalam satu RTD tersebut.
Dan untuk mengetahui terminal pada Temperature Controller, biasanya sudah tertulis kode yang bertuliskan RTD, sebagai contoh disini terminal yag digunakan adalah Terminal 9,10,11. Untuk Temperature Controller yang berbeda mungkin akan memiliki kode nomor terminal kabel yang berbeda, namun biasanya pada setiap Temperature controller akan menuliskan kode Input sensor untuk RTD atau untuk TC (Thermo Couple).
Pengaturan pada Temperature Controller
Temperature Controller harus disesuaikan atau disetting terlebih dahulu agar dapat membaca sinyal Resistan yang dikirim RTD sensor, dan kemudian melakukan perbandingan nilai resistan dari RTD untuk diubah menjadi tampilan hasil pengukuran yang sesuai dengan suhu benda diukur, berupa Suhu skala Celcius atau Fahrenheit.
Memasukkan data "Input Sensor"
Pertama masukkan data Sensor RTD yang digunakan ke dalam menu pengaturan Input sensor selection pada Temperature Controller.
Sebagai Contoh:
Jika RTD sensor yang anda gunakan adalah Pt100, maka sesuaikan pengaturan pada Temperature Controller dengan memilih Input Sensor Range Pt100.
Memasukkan data "Sensor Range"
Kemudian sesuaikan juga pengaturan nilai suhu minimum dan maksimum (Sensor Range) RTD pada Temperature Controller.
Sebagai Contoh:
Jika RTD yang anda gunakan memiliki Sensor Range -200...600⁰C, maka sesuaikan pengaturan Sensor Range Scale pada Temperature Controller.
Scale High Limit -200⁰C, dan Scale Low Limit 600⁰C.
Memasukkan data "Unit"
Sesuaikan juga Unit temperature yang ingin ditampilkan.
Sebagai Contoh:
Jika anda ingin agar Temperature Controller menampilkan suhu dalam skala Celcius maka pilih pengaturan Unit ⁰C, jika anda ingin menampilkan suhu dalam skala Fahrenheit maka pilih pengaturan Unit ⁰F.
Demikianlah sedikit penjelasan bagaimana cara pemasangan RTD dan Temperature Controller untuk aplikasi pengukuran Suhu (Temperatur).
Selain untuk pengukuran suhu, Temperature Controller juga dapat di aplikasikan untuk sistem otomatis dengan memanfaatkan fitur-fitur tambahan (Output) yang ada pada masing-masing Temperature Controller, seperti Alarm Output, relay Output, Digital Output maupun Analog Output (4-20mA).
Semoga bermanfaat!
Cara Memasang Fotocell (sensor cahaya) yang benar pada lampu penerangan
Beberapa petunjuk cara Pemasangan lampu penerangan otomatis dengan sensor cahaya (Fotocell).
Saat kita memasang lampu penerangan untuk menerangi taman, teras, jalan, dan area luar ruangan lainnya, kita tentu merasa terganggu jika harus keluar rumah hanya sekedar untuk menyalakan lampu tersebut di malam hari dan memadamkannya saat cahaya sudah terang di pagi hari.
Sebenarnya anda tidak perlu direpotkan dengan hal tersebut, karena anda dapat membuat lampu tersebut bekerja secara otomatis, lampu akan menyala di malam hari atau jika cahaya di luar sudah mulai gelap, serta lampu akan padam dengan sendirinya saat pagi hari cahaya diluar sudah mulai terang.
Bagaimana caranya agar Lampu penerangan dapat menyala dan padam secara otomatis?
Lampu otomatis dengan Fotocell
Caranya sederhana, yaitu dengan membuat rangkaian lampu otomatis, cukup dengan memasang rangkaian sederhana dengan menggunakan sensor cahaya yang disebut dengan Photo Controls atau Fotocell.
Photo controls (Fotocell) adalah sebuah alat elektronik yang bekerja berdasarkan sensor intensitas cahaya yang diterimanya.
Baca juga: Apa yang dimaksud dengan Fotocell dan LDR?
Saat Photo controls (Fotocell) tersebut terkena cahaya yang cukup terang, maka secara otomatis alat tersebut akan memutuskan sumber listrik yang menuju lampu penerangan, sehingga lampu akan padam dengan sendirinya.
Saat Photo controls (Fotocell) tersebut mendapatkan cahaya gelap (Kurang terang), maka secara otomatis alat tersebut akan terhubung dan mengalirkan sumber listrik yang menuju lampu penerangan, sehingga lampu akan menyala dengan sendirinya.
Fotocell pengganti Saklar
Jika sebelumnya lampu penerangan yang berada diluar ruangan menggunakan saklar manual untuk menyalakan dan memadamkan lampu tersebut, dengan memasang Photo control (Fotocell) Saklar tersebut tidak perlu dipasang lagi.
Photo Controls (Fotocell) dapat juga dikatakan sebagai saklar otomatis, menggantikan saklar manual yang sebelumnya terpasang.
Cara Menyambung Kabel FotoCell
Bagaimana rangkaian pemasangan Photo controls (Fotocell) untuk lampu penerangan?
Photo control (Fotocell) dipasangkan pada rangkaian kabel sumber listrik yang menuju lampu, Biasanya terdapat 3 kabel keluaran pada Photo Controls (Fotocell) tersebut.
1. Kabel berwarna Hitam
Kabel warna Hitam disambungkan pada kabel fase yang berasal langsung dari sumber listrik.
2. Kabel berwarna Putih
Kabel warna Putih disambungkan pada kabel Netral yang berasal langsung dari sumber listrik.
3. Kabel berwarna Merah
Kabel warna Merah disambungkan pada Kabel lampu penerangan.
Untuk lebih jelasnya mengenai rangkaian cara penyambungan kabel photo controls (Fotocell) pada lampu penerangan, dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Setelah kita mengetahui, bagaimana cara membuat lampu otomatis dengan menggunakan sensor cahaya, serta mengetahui bagaimana cara menyambung kabel-kabelnya, selanjutnya yang juga perlu kita ketahui bagaimana posisi pemasangan Photo control (Fotocell) yang benar.
Karena meskipun kita sudah menggunakan Photo controls (Fotocell) pada lampu penerangan tersebut, serta kita sudah menyambung kabelnya dengan benar, namun posisi pemasangan Photo controls (Fotocell) tidak tepat, maka lampu tidak dapat bekerja secara otomatis sesuai dengan keinginan kita.
Posisi Pemasangan Photo controls (Fotocell) yang benar
Beberapa hal yang harus kita perhatikan untuk memastikan posisi pemasangan Photo controls (Fotocell) yang benar, antara lain:
Pasang Photo controls (Fotocell) pada posisi yang terkena cahaya matahari langsung.
Pastikan tidak ada benda lain yang menutupi Photo controls (Fotocell), sehingga dapat menghalangi cahaya matahari. (jangan memasang Photo controls (Fotocell) di bawah pohon, atap, atau benda lainnya)
Pasang Photo controls (Fotocell) pada posisi yang terhindar dari cahaya lampu. (Jangan memasang Photo controls (Fotocell) dibawah lampu atau disamping lampu).
Pastikan posisi pemasangan Photocontrol (fotocell) sudah benar atau tidak terbalik.
Photo controls (Fotocell) sudah dirancang sedemikian rupa agar dapat terhindar dari masuknya air (Kedap air), namun jika pemasangannya terbalik, dapat menyebabkan air masuk kedalam sensor tersebut dan mengakibatkan sensor rusak (short circuit).
Dengan menggunakan sensor cahaya untuk lampu penerangan, anda tidak perlu repot lagi keluar rumah untuk menyalakan atau memadamkan lampu tersebut, karena Lampu tersebut sudah bekerja secara otomatis.
Semoga bermanfaat!
Label:
berita harian viral,
berita paling viral,
berita viral artis,
berita viral dunia,
berita viral hari ini,
berita viral indonesia,
berita viral terbaru,
berita viral terkini
Cara sederhana agar Lampu tetap menyala saat Listrik padam karena kelebihan beban.
Bagaimana Caranya, agar Lampu dirumah tetap menyala saat listrik padam karena Pemakaian daya listrik yang berlebihan?
Apa yang terjadi, jika kita terlalu banyak memakai alat-alat listrik secara bersamaan, sehingga melebihi daya listrik yang terpasang?
MCB dirumah akan turun (Jeglek), dan akhirnya listrik dirumahpun padam.
Jika MCB jepret (Trip) saat malam hari, tentu rumah anda akan menjadi gelap, hal ini tentu akan menyulitkan kita untuk menyalakan kembali MCB yang jeglek (jepret) tersebut, apalagi biasanya MCB terpasang diluar rumah.
Bagaimana caranya, agar lampu tetap dapat menyala, saat listrik dirumah anda padam karena kelebihan pemakaian alat-alat listrik (Kelebihan daya) dan MCBnya Jepret (Trip)?
Anda tentu pernah mengalami, saat malam hari berkumpul bersama keluarga di rumah, Tiba-tiba rumah menjadi Gelap karena Listrik di rumah anda Padam.
Setelah diperiksa, ternyata penyebab padamnya listrik dirumah anda adalah karena kelebihan beban, atau terlalu banyak menggunakan alat-alat listrik dan elektronik secara bersamaan, dan menyebabkan MCB di rumah anda Trip (MCB Jeglek atau jepret).
Peralatan Listrik dirumah yang paling besar biaya tagihan listriknya
Tentu hal ini akan membuat anda dan keluarga menjadi sangat terganggu, ditambah lagi suasana rumah yang gelap menyebabkan anda sulit untuk menyalakan kembali MCB yang letaknya berada diluar rumah.
Bagaimana caranya, meskipun MCB jepret dan listrik dirumah padam, namun Lampu masih menyala?
MCB yang ada dirumah kita memang sudah disesuaikan dengan batas maksimal pemakaian daya listrik, Hal ini bertujuan agar pemakaian alat-alat listrik tidak melebihi batasan daya listrik yang sudah terpasang.
Cara menentukan ukuran MCB yang dibutuhkan
Jika listrik di rumah anda terpasang dengan daya maksimal 900watt, maka alat-alat listrik yang bisa kita nyalakan secara bersamaan tidak boleh melebihi 900watt.
Namun ada kalanya, tanpa kita sadari, kita menggunakan berbagai peralatan listrik secara bersamaan dan melebihi daya maksimalnya, akibatnya MCB akan trip (Jepret) dan listrik di rumah anda pun padam.
Pemakaian daya listrik paling banyak biasanya terjadi saat malam hari, disaat yang bersamaan Televisi menyala, Kulkas, AC, Setrika listrik, dan Lampu-lampu.
Jika hal ini terjadi, tentunya akan mengakibatkan Listrik dirumah anda padam, dan tentunya Lampu-lampu juga ikut padam, suasana rumah pun menjadi gelap.
Namun, sebenarnya ada cara yang sangat sederhana, bagaimana agar Lampu tetap menyala, saat Listrik padam karena kelebihan beban.
Cara sederhana agar lampu tetap menyala, saat listrik padam karena kelebihan beban.
Cara sederhana yang dapat kita lakukan agar saat Listrik padam karena pemakaian listrik yang berlebihan, namun Lampu-lampu tidak ikut padam, sehingga rumah anda tetap terang, dan anda akan lebih mudah untuk keluar rumah dan menyalakan kembali MCB yang jeglek (Jepret) dan mengurangi pemakaian Alat-alat Listrik yang ada.
Memasang MCB terpisah untuk Lampu dirumah.
Biasanya Seluruh instalasi dirumah anda terpasang dalam satu jalur dan hanya menggunakan satu MCB, sehingga saat MCB tersebut trip atau turun (atau istilah lainnya MCB jepret / Jeglek), seluruh peralatan listrik akan padam termasuk Lampu.
Stop kontak, saklar dan lampu-lampu biasanya terpasang dalam satu rangkaian dan satu MCB.
Oleh karena itu, Kita harus membuat jalur kabel tersendiri khusus untuk saklar dan lampu-lampu, dengan menggunakan satu MCB yang terpisah.
Cara ini dapat anda lakukan, dengan memisahkan kabel seluruh lampu-lampu dirumah, atau paling tidak buatlah satu lampu khusus dengan jalur kabel dan MCB tersendiri.
Untuk lebih jelasnya, anda bisa melihat gambar rangkaian berikut ini:
Membuat inRangkaian Lampu terpisah
MCB Utama, adalah MCB yang sudah terpasang sebelumnya, biasa terpasang dengan KWH meter milik PLN, ukuran MCB disesuaikan dengan daya yang sudah terpasang.
MCB kedua, dipasang untuk Stopkontak dan seluruh instalasi listrik di dalam rumah, dan pastikan ukuran MCB kedua ini lebih rendah amperenya dari MCB Utama, agar saat terjadi kelebihan beban listrik, MCB inilah yang Trip atau jepret (Jeglek).
MCB ketiga, adalah MCB yang khusus dipasang untuk Lampu, anda bisa menambahkan Lampu baru selain lampu-lampu yang sudah ada, agar lebih mudah dan tidak perlu merubah instalasi yang sudah ada. ukuran MCB untuk lampu dapat disesuaikan dengan daya lampu yang terpasang, anda dapat memasang MCB 1A.
Saat terjadi kelebihan beban, MCB kedua akan jepret karena ukuran amperenya lebih rendah dari MCB Utama, namun Lampu tetap mendapatkan tegangan listrik dari MCB Utama.
Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmustalasi listrik dengan lampu terpisah
Berbagai bahan Instalasi listrik yang bagus dan aman serta cara memasangnya
Apa saja Bahan yang dibutuhkan untuk pemasangan instalasi listrik yang baik dan aman?
Untuk memasang instalasi listrik di rumah yang baik dan aman, tentunya dibutuhkan berbagai bahan atau peralatan listrik yang tepat, serta cara memasang yang benar.
Ada beberapa bahan atau material untuk pemasangan instalasi listrik di rumah yang perlu kita ketahui, dan tentunya harus yang sesuai baik dari sisi keselamatan dan kehandalannya.
Bahan-bahan instalasi listrik yang biasa kita gunakan, antara lain: MCB, ELCB, Kabel, Saklar, Colokan (Stop kontak), sekring, dan lainnya.
Namun, dengan hanya mengetahui beberapa bahan atau Alat-alat listrik untuk pemasangan instalasi listrik di rumah tidaklah cukup, tentunya kita harus mengetahui juga apa fungsi dari alat-alat listrik tersebut, dan bagaimana cara pemasangan yang benar dan aman.
Sudah amankah Instalasi Listrik di rumah anda?
Oleh karena itu,kali ini kita akan berbagi mengenai apa saja bahan atau material yang diperlukan untuk pemasangan instalasi listrik yang baik dan Aman, serta cara memasangnya.
Berbagai Bahan Instalasi Listrik dan cara memasang yang benar dan aman
1. Kabel
Kabel adalah salah satu bahan utama untuk pemasangan Instalasi listrik di rumah.
Kabel berfungsi sebagai penghantar listrik, untuk mengalirkan listrik dari sumber listrik menuju berbagai peralatan listrik lainnya yang ada di dalam suatu instalasi listrik dirumah.
Terdapat berbagai jenis bahan yang digunakan untuk penghantar Listrik, Namun bahan penghantar atau Kabel yang baik untuk menghantarkan Listrik adalah kabel dengan bahan Tembaga, karena memiliki daya hantar yang bagus dan tahanan jenis yang kecil.
Jenis-jenis bahan penghantar listrik dan tahanan jenisnya (Rho).
Setelah kita memilih kabel yang berbahan tembaga, selanjutnya kita juga harus memilih jenis kabel yang sesuai dan aman untuk digunakan pada Instalasi listrik dirumah.
Mengenal jenis-jenis kabel dan kegunaannya.
Ada beberapa jenis Kabel tembaga yang biasa dipakai untuk instalasi listrik di rumah, antara lain:
Kabel NYA
Kabel NYA biasanya dipasang didalam Pipa PVC.
Kenapa kabel NYA harus dipasang didalam pipa?
Kabel jenis NYA hanya memiliki satu lapisan isolasi yang melindungi inti tembaga di dalamnya, sehingga dibutuhkan pelindung tambahan yaitu Pipa.
Selain itu Kabel NYA adalah jenis Kabel tunggal, untuk pemasangan suatu instalasi listrik di rumah, memerlukan lebih dari satu kabel NYA, sehingga perlu dimasukkan didalam Pipa untuk menyatukan kabel-kabel tersebut dan tampak lebih rapi.
Kabel NYM
Penggunaan Kabel NYM untuk instalasi listrik dirumah, memberikan beberapa keuntungan dibanding Kabel NYA.
Kabel NYA dapat dipasang tanpa selubung tambahan (Pipa), karena Kabel NYM memiliki beberapa lapisan isolasi yang menyelubungi Inti tembaga.
Kabel NYA tersedia dengan beberapa inti tembaga didalamnya, sehingga tidak perlu banyak kabel untuk pemasangan instalasi listrik di rumah.
Penjelasan Arti Kode huruf pada Kabel NYA, NYM, dan lainnya.
Hal yang tak kalah penting adalah, menentukan kabel ukuran berapa yang harus kita gunakan, agar instalasi listri di rumah aman dan tahan lama?
Cara menghitung ukuran kabel yang dibutuhkan
Kabel yang harus dipasang ada 3 macam, yakni Kabel untuk jalur Fasa (Merah), Kabel untuk jalur Netral (Hitam) dan Kabel jalur Arde atau pentanahan (Kuning).
Pastikan Kabel yan 2. MCB
MCB (Miniature Circuit Breaker) adalah salah satu komponen atau bahan utama dalam suatu instalasi listrik.
MCB berfungsi sebagai pengaman instalasi listrik, jika terjadi hubungan singkat (Korsleting) atau kelebihan beban, maka MCB akan secara otomatis memutuskan rangkaian listrik dan listrik di rumah pun menjadi padam.
Dulu alat yang biasa digunakan untuk pengaman instalasi listrik adalah Sekring (Fuse), namun penggunaan sekring belakangan ini mulai tergantikan dengan MCB, karena MCB dapat digunakan berkali-kali saat terjadi gangguan instalasi listrik, sedangkan sekring perlu diganti jika putus.
Meski ada sekring otomatis,dan tak perlu diganti jika terjadi gangguan listrik, namun penggunaan MCB tetap yang paling diminati.
MCB dipasang pada kabel fase dari sumber listrik, sumber listrik (kabel Fase) harus melewati MCB terlebih dahulu sebelum dialirkan menuju instalasi listrik di rumah.
Kabel fasa dari sumber listrik utama dipasang pada baut terminal MCB (bagian Atas), dan terminal MCB bagian bawah dipasang menuju instalasi listrik di dalam rumah, sedangkan kabel netral dari sumber langsung dialirkan langsung tanpa melewati MCB.
Pastikan Kabel yang terpasang pada MCB adalah Kabel Fase dari sumber, agar saat MCB dimatikan tidak ada lagi tegangan listrik yang mengalir pada Instalasi listrik.
Dan pasanglah MCB dengan menggunakan Box MCB agar lebih terlindung, aman dan rapi.
3. Sekring (Fuse)
Sekring adalah suatu alat pengaman listrik yang terbuat dari bahan penghantar yang memiliki batasan kemampuan arus, jika arus lebih maka sekring akan putus.
Penggunaan sekring dalam instalasi listrik sudah mulai tergantikan dengan menggunakan MCB yang lebih praktis.
g anda gunakan sudah sesuai baik jenis kabel dan ukurannya
4. ELCB (Anti kontak).
ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker), adalah suatu alat pengaman yang sangat penting dalam suatu instalasi listrik dirumah.
ELCB berfungsi sebagai pengaman bagi kita terhadap resiko kesetrum atau tersengat listrik.
Memilih ELCB yang benar.
ELCB harus dipasang pada sumber listrik utama sebelum instalasi listrik di rumah, Kabel fasa dan kabel Netral harus terpasang terlebih dahulu pada ELCB sebelum dialirkan menuju instalasi listrik di rumah. Cara memasang ELCB yang benar
Jika instalasi listrik dirumah anda belum terpasang ELCB, segera lengkapi dengan ELCB karena keselamatan kita adalah hal yang paling utama.
Anda juga dapat menggunakan ELCB sebagai pengganti MCB.
5. Stop kontak
Stop kontak biasa juga disebut dengan colokan, tempat kita mencolokkan steker dari berbagai peralatan listrik seperti televisi, kulkas, kipas angin, mesin cuci, dan lainnya.
Stop kontak (Colokan) berfungsi sebagai tempat sumber listrik, dan digunakan untuk tempat menyalakan berbagai peralatan listrik.
Stop kontak memiliki 3 terminal kabel di dalamnya, terminal tersebut berfungsi untuk pemasangan kabel fase , netral dan arde dari sumber listrik. Memilih Stopkontak yang bagus dan aman
Pastikan instalasil listrik dirumah dilengkapi dengan kabel arde, dan terpasang dengan baik dan benar.
6. Saklar
Saklar berfungsi sebagai alat penghubung dan pemutus rangkaian sumber listrik menuju peralatan listrik, dan umumnya dipasang untuk menyalakan atau memadamkan Lampu.
Terdapat berbagai jenis saklar, namun yang paling sering digunakan untuk instalasi listrik dirumah adalah saklar tunggal dan saklar ganda.
Saklar tunggal digunakan untuk satu buah lampu, sedangkan saklar tunggal digunakan untuk dua buah lampu.
Saklar tunggal memiliki dua baut terminal, satu terminal untuk tempat kabel fase langsung dari sumber, dan satu terminal lagi untuk tempat kabel yang menuju ke lampu.
Pastikan kabel yang terpasang ke saklar adalah kabel fase, agar saat saklar terputus, tidak ada tegangan listrik yang masuk ke lampu.
7. Kotak sambungan
Kotak sambungan disebut juga dengan Junction Box, atau biasa disebut dengan Tedus.
Kotak sambungan (Tedus) ini berfungsi tempat kita menyambung kabel-kabel listrik, yang bertujuan agar setiap sambungan kabel dapat terlindung dengan baik dan aman.
Pastikan setiap sambungan kabel ditempatkan didalam kotak sambungan (Tedus)
8. Wire Nut.
Wire Nut adalah alat untuk menyambung kabel listrik yang baik dan aman, setelah kabel disambung dengan cara dipuntir, kemudian kita tutup dengan Wire Nut agar sambungan terlindungi dan tidak mudah longgar.
Wire nut juga berfungsi pengganti isolasi (Selasiban) yang biasa kita gunakan untuk menyambung kabel listrik.
Jika selama ini anda menggunakan isolasi untuk membalut sambungan kabel, maka sebaiknya anda mulai menggunakan Wire nut yang berfungsi sebagai isolasi sekaligus menjaga sambungan lebih kuat dan tidah mudah longgar.
Gunakan Wire Nut untuk menyambung kabel listrik yang bagus dan aman.
9. Isolasi (Insulation Tape)
Isolasi berfungsi sebagai isolator (Bahan yang tidak bisa menghantar listrik), untuk melindungi kabel-kabel listrik yang terkelupas atau terbuka.
Untuk sambungan kabel jika memungkinkan sebaiknya menggunakan Wire Nut.
10. Lampu
Lampu merupakan alat listrik yang berfungsi untuk memberikan penerangan.
Terdapat berbagai jenis lampu yang banyak digunakan dalam instalasi listrik dirumah, antara lain: Lampu TL (Neon),Lampu Pijar, Lampu Hemat energi,Lampu LED, dan lainnya.
Tips memilih Lampu
Untuk lampu TL tidak membutuhkan fiting lampu, Karena Lampu TL sudah dilengkapi dengan kotak lampu, sedangkan untuk lampu-lampu lainnya harus menggunakan Fitting tempat memasang lampu tersebut.
11. Fitting
Fitting berfungsi untuk tempat memasang lampu dan sebagai tempat sumber listrik untuk menyalakan lampu tersebut.
Ada berbagai jenis fitting lampu, seperti: fitting gantung dan fitting tempel (Duduk).
Pada fiting lampu terdapat dua baut terminal kabel, satu baut terminal dipasang kabel netral langsung dari sumber, sedangan terminal lainnya untuk tempat kabel fase yang diambil dari saklar lampu tersebut, saat saklar dalam posisi terputus maka lampu padam, saat saklar terhubung maka lampu akan menyala.
Cara sederhana agar lampu tetap menyala saat MCB Trip karena kelebihan beban
Pilihlah fiting lampu yang terminalnya berbahan kuningan, agar tidak mudah berkarat dan tahan lama.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Berbagai Satuan Listrik dan penjelasannya
Kita mengenal berbagai satuan listrik, yang digunakan untuk menyatakan berbagai besaran listrik, apa saja satuan listrik yang umum digunakan dalam bidang kelistrikan, berikut beberapa satuan listrik dan penjelasan singkatnya.
Satuan Listrik
OLT
VOLT adalah satuan listrik untuk menyatakan besaran Tegangan Listrik (Voltage).
VOLT biasa disimbolkan dengan huruf V (Volt).
Tegangan Listrik merupakan suatu besaran listrik yang paling mendasar dalam ilmu kelistrikan.
Tegangan Listrik adalah Perbedaan Potensial antara 2 titik yang dihasilkan dari suatu sumber listrik.
Listrik terjadi karena adanya muatan Proton dan Elektron yang memiliki perbedaan muatan atau beda potensial.
Listrik tidak memiliki tegangan jika tidak ada perbedaan potensial diantara dua titik penghantar.
Kita mengenal berbagai besar tegangan listrik yang umum digunakan, dan dibagi menjadi 2 jenis tegangan yaitu:
Tegangan Listrik DC
DC adalah singkatan dari Direct Current atau arus searah.
Beberapa tegangan atau Voltage pada listrik DC, antara lain:
1,5 Vdc, 9Vdc, 12Vdc, 24Vdc dan lainnya
Contoh sumber listrik yang menghasilkan listrik DC, yaitu AKKI, Batere.
Selain itu tegangan listrik DC juga dapat dihasilkan dengan cara menyearahkan listrik AC menggunakan Adaptor.
Tegangan Listrik AC
AC adalah singkatan dari Alternating Current atau arus bolak-balik.
Beberapa besaran Tegangan listrik AC yang biasa kita kenal, yaitu:
110Vac, 220Vac, 380Vac
Tegangan yang biasa digunakan di rumah adalah tegangan listrik AC 220V.
Tegangan listrik AC dihasilkan dari suatu sumber pembangkit listrik yang biasa disebut dengan Generator (Genset). Perbedaan listrik AC dan DC
Tegangan listrik AC juga dapat diubah menjadi tegangan listrik DC dengan menggunakan Konverter.
Listrik tidak akan ada jika tidak ada perbedaan potensial atau Tegangan.
KV
KV adalah satuan Kilo Volt (1000Volt).
KVA
KVA adalah satuan Kilo Volt Ampere.
KVA adalah satuan daya tertulis yang didapat dari hasil perhitungan dan merupakan daya semu.
VAr
VAr = Volt Ampere Reaktif
Satuan VAr ini biasa kita jumpai dalam Sistem instalasi listrik 3 Phase, untuk menyatakan besaran daya reaktif atau kerugian-kerugian daya yang timbul akibat daya harmonik.
Semakin besar daya reaktif (VAR) akan mengakibatkan faktor daya semakin rendah, dan daya aktif akan semakin kecil.
Sebagai contoh: Jika suatu pembangkit listrik tertulis daya 250KVA, dengan faktor daya atau Cos phi sebesar 0,8, maka Daya aktif atau daya yang dapat digunakan adalah sebesar:
250 KVA x 0,8 = 200KW.
Lalu, Saat daya reaktif yang dihasilkan semakin besar, akan mengakibatkan menurunnya faktor daya, jika faktor daya menurun sampai 0,7, maka daya aktif akan semakin kecil:
250KVA x 0,7 = 175KW
KVAr
KVAR adalah satuan Kilo Volt Ampere Reaktif.
Cara memperbaiki Faktor daya listrik 3 fasa
AMPERE
AMPERE adalah satuan listrik untuk menyatakan besaran arus listrik.
Ampere biasa disimbolkan dengan huruf I (Intensity).
Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan oleh pergerakan Elektron yang mengalir melalui suatu penghantar dalam suatu rangkaian listrik dalam satuan waktu.
Arus listrik terjadi jika ada tegangan listrik dan resistan atau beban listrik yang terhubung dalam suatu rangkaian.
Dengan kata lain, Arus listrik tidak akan ada jika tidak ada tegangan dan Resistan yang terhubung dalam suatu Rangkaian listrik.
Sebagai contoh, Arus listrik akan mengalir dari saklar menuju lampu saat saklar lampu tersebut kita nyalakan, kemudian saat saklar kita padamkan, tidak ada arus listrik yang mengalir.
Lampu termasuk kedalam jenis beban listrik atau Resistan.
Ohm
Ohm adalah satuan listrik yang menyatakan besaran nilai tahanan (Resistan)
Ohm biasa disimbolkan dengan Ω
Rumus menghitung resistan dalam rangkaian seri dan paralel
Setiap alat listrik dan penghantar memiliki nilai Ohm (Tahanan)
Alat-alat listrik yang biasa kita gunakan sehari-hari, seperti Setrika, kipas angin, Televisi, kulkas dan lainnya termasuk kedalam jenis resistan dan memiliki nilai tahanan dalam satuan Ohm.
Resistan (tahanan) listrik adalah segala sesuatu yang menghasilkan Arus listrik saat dilewati tegangan listrik. Besar kecilnya arus listrik yang dihasilkan tergantung dari besar kecilnya tegangan listrik dan besar kecilnya nilai tahanan (Ohm) yang dilalui. Hukum Ohm dan penjelasannya
V = I x R
V = Tegangan (Voltage) dalam satuan Volt
I = Arus listrik (Intensity) dalam satuan Ampere
R = Resistansi dalam satuan Ohm (Ω)
Watt
Watt adalah satuan listrik yang menyatakan besaran daya listrik (Power)
Watt biasa disimbolkan dengan huruf P (Power).
Daya listrik adalah besaran listrik yang mengalir melalui suatu penghantar dalam suatu rangkaian listrik. Mengenal 3 macam Daya listrik 3 fasa
Alat-alat listrik yang biasa kita gunakan di rumah biasanya dituliskan dalam satuan Watt, seperti:
Lampu 36Watt, Kulkas 100Watt, mesin cuci 200Watt, setrika 300Watt, dan lainnya.
Semakin besar satuan daya (Watt) dari suatu alat listrik yang kita gunakan, semakin besar pula Arus listrik yang dihasilkan.
P = V x I
P = Daya (Power) dalam satuan Watt
V = Tegangan listrik (Voltage) dalam satuan Volt
I = Arus listrik (Intesity) dalam satuan Ampere.
Watt adalah satuan Daya aktif
KW
Kilowatt (KW) menyatakan 1000Watt
KWH
Kilowatt Hour (KWH) menyatakan besaran 1000Watt dalam satu jam.
HERTZ
Hertz adalah satuan listrik untuk menyatakan besaran Frekuensi (F)
Hertz biasa disimbolkan dengan Hz
Hertz banyaknya gelombang listrik yang terjadi dalam satu detik.
Listrik yang memiliki nilai Frekuensi adalah listrik AC, dan Besaran Frekuensi listrik AC yang biasa kita gunakan pada listrik di rumah adalah 50Hz.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Apa sebenarnya arti AM dan PM pada penulisan Jam
Jam 12.00 A.M adalah tepat jam 12 tengah malam, sedangkan jam 12.00 P.M adalah tepat jam 12 siang hari.
Apa sebenarnya arti AM dan PM pada penulisan jam?
Kita tentu pernah melihat penulisan waktu (jam) dengan AM atau PM, lalu apa itu AM dan PM?
Pada penulisan waktu dengan simbol AM dibelakangnya, maksud AM itu apa?
Pada penulisan waktu dengan simbol PM dibelakangnya, maksud PM itu apa?
Penjelasan waktu A.M - P.M
Sebagian dari kita mungkin pernah bertanya-tanya, kenapa ada tulisan AM atau PM pada penulisan Jam dengan format waktu 12 jam.
Penulisan jam di Indonesia umumnya menggunakan Format 24 jam, sedangkan format 12 jam dengan penambahan penulisan AM dan PM ini, umumnya digunakan di negara Amerika dan Eropa.
Jika waktu menggunakan Format 24 Jam, tidak menggunakan penulisan AM atau PM, sedangkan jika format waktu yang digunakan 12 Jam, maka untuk membedakan Waktu siang dan Malam, maka digunakan sistem penulisan waktu dengan menggunakan istilah AM dan PM.
Apa yang dimaksud dengan AM dan PM tersebut?
apa itu Am dan Pm pada penulisan jam
AM-PM
Kali ini kita akan berbagi, mengenai apa kepanjangan dari AM dan PM, serta apa sebenarnya yang dimaksud dengan AM dan PM pada penulisan waktu tersebut:
A.M
AM adalah singkatan dari Ante Meridiem.
Ante Meridiem berasal dari bahasa inggris yang memiliki makna sama dengan Before Noon, atau jika dalam bahasa Indonesia artinya sebelum siang hari (Tengah malam dan Pagi).
Karena penjelasan waktu di negara Inggris yakni, yang termasuk kedalam waktu sudah Siang adalah dimulai dari jam 12.00 Siang Tepat.
Sebelum siang (Before Noon) adalah dimulai dari jam 12.00 tengah malam sampai dengan sebelum jam 12 siang, jika sudah tepat jam 12.00 siang atau lebih, maka dapat dikatakan sudah termasuk Lewat tengah hari (After Noon).
Oleh karena itu waktu yang dapat dituliskan menggunakan AM, adalah waktu yang dimulai dari jam 12.00 malam, sampai dengan sebelum jam 12 siang, seperti:
Jam 12.00 AM, artinya tepat jam 12 tengah malam, atau jam 24.00 (Format 24 jam)
Jam 01.00 AM, artinya jam 01 dini hari.
Jam 05.00 AM, artinya jam 05 pagi hari.
Jam 10.00 AM, artinya jam 10 pagi hari.
Jam 11.59 AM, artinya jam 11 pagi lewat 59 menit atau kurang 1 menit menuju jam 12 siang, karena belum tepat jam 12 siang, maka jam 11.59 masih menggunakan penulisan AM.
P.M
PM adalah singkatan dari Post Meridiem
Post Meridiem berasal dari bahasa inggris yang memiliki makna yakni sama dengan After Noon, atau jika dalam bahasa Indonesia artinya setelah siang hari (Sore dan malam).
Karena penjelasan waktu di negara Inggris yakni, yang termasuk kedalam waktu siang adalah dimulai dari jam 12.00 Siang hari sampai dengan sebelum jam 12.00 Tengah malam, jika sudah tepat jam 12.00 tengah malam atau lebih, maka dapat dikatakan sudah termasuk sebelum tengah hari (Sore) atau AM.
Oleh karena itu waktu yang dapat dituliskan menggunakan PM, adalah waktu yang dimulai dari jam 12.00 siang tepat, sampai dengan sebelum jam 12 malam, seperti:
Jam 12.00 PM, artinya tepat jam 12 siang hari.
Jam 01.00 PM, artinya jam 1 siang hari
Jam 02.00 PM, artinya jam 2 siang hari
Jam 04.00 PM, artinya jam 4 sore hari.
Jam 10.00 PM, artinya jam 10 malam hari
Jam 11.59 PM, artinya jam 11 malam hari, lewat 59 menit atau kurang 1 menit menuju jam 12 malam, karena belum tepat jam 12 malam, maka penulisannya adalah jam 11.59 P.M.
Setelah membaca penjelasan mengenai AM dan PM pada penulisan jam, diharapkan kita dapat mengetahui apa sebenarnya maksud dari AM dan PM pada penulisan waktu dan jam dan lebih memahami maksud dari AM dan PM tersebut.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Pilihan Drone yang cocok bagi pemula
Pilihan Drone yang Cocok bagi anda yang masih pemula
Bagi anda yang saat ini berencana membeli Drone, dan ini adalah pertama kalinya anda akan memiliki Drone, ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan untuk memilih Drone yang sesuai bagi Pemula.
Baca juga:Pengenalan dan sejarah Drone
Drone yang cocok untuk Pemula
Drone adalah suatu perangkat canggih, yang dapat terbang di udara menggunakan Remote control sebagai pengendali jarak jauh, dan belakangan ini banyak digunakan bersama dengan perangkat Kamera untuk mengambil Foto dari udara.
Foto selfie dengan menggunakan ponsel mungkin sudah biasa kita lihat, namun perkembangan jaman yang terus berjalan, Pengambilan Foto dengan cara yang lebih modern saat ini dapat dilakukan dari atas udara dengan menggunakan Perangkat kecil yang dapat terbang yaitu Drone.
Apakah pilihan Drone untuk pemula dan yang sudah mahir itu berbeda?
Sebaiknya dibedakan, Drone untuk pemula bisa disebut sebagai bahan percobaan, sebelum masuk ke tahap mahir, dan tentu Drone tipe standar sudah cukup untuk sekedar mempelajari fungsi dan pengoperasian Drone.
Bagi anda yang ingin memiliki Drone, ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan untuk mendapatkan Drone yang bagus khususnya bagi anda yang tergolong baru mengenal Drone.
Tips Memilih Drone untuk Pemula.
1. Pilih Drone tipe standar dengan harga yang relatif murah
Hal pertama yang perlu diperhatikan, khususnya bagi anda yang baru memulai menggunakan Drone adalah Harga Drone.
Sebaiknya anda membeli Drone dengan Harga yang tidak terlalu mahal, mungkin Drone dengan kisaran harga 1 jutaan dapat menjadi pilihan Drone yang cocok bagi pemula, karena mengoperasikan Drone tergolong susah-susah Gampang, apalagi bagi anda yang masih dalam tahap belajar untuk menggunakan Drone tersebut.
Pasti akan terasa sulit untuk mengoperasikan Drone tersebut, khususnya cara mengoperasikan saat akan Lepas landas (Take-Off) dan Mendarat (Landing).
Dalam proses anda mempelajari pengoperasian Drone, tentu akan mengalami beberapa kali kegagalan sampai akhirnya anda dapat terbiasa dengan perangkat tersebut, dikhawatirkan Drone yang sudah anda beli dengan harga mahal malah rusak sebelum anda benar-benar menguasainya.
Tambahan, pilihlah Drone yang dilengkapi Pelindung baling-baling, untuk meminimalkan resiko terbentur karena kegagalan pengoperasian.
Setelah nantinya anda merasa sudah mahir menggunakan Drone, Selanjutnya anda bisa memilih Drone dengan harga yang lebih mahal dan tentunya lebih canggih.
2. Pilih Drone yang Auto Take-Off dan Auto Landing
Bagi anda yang memang tidak mempermasalahkan mengenai Harga, Pilihan Drone dengan Fitur Auto Take-Off dan Auto Landing dapat menjadi Pilihan Drone terbaik bagi anda.
Kalau hal yang pertama diatas adalah memilih Drone tipe standar dengan harga yang relatif murah, dengan tujuan meminimalkan resiko kerugian jika drone hanya sekedar dalam tahap belajar bagi anda.
Hal yang kedua, Adalah memilih Drone yang sudah dilengkapi Auto Take-off dan Auto-Landing.
Drone dengan fitur ini tentunya akan memudahkan anda dalam mengoperasikannya, tanpa khawatir terjadi kegagalan terutama saat Landing, yang dapat mengakibatkan Drone yang baru anda beli rusak.
Namun konsekuensinya pasti Harga sebuah Drone dengan Fitur Auto Take-off dan Auto-Landing ini dibanderol dengan harga yang lumayan mahal.
3. Pilih Drone dengan Batere yang Tahan lama
Sebagus apapun Drone yang kita pilih, dilengkapi dengan berbagai fitur canggih, namun jika boros Batere, tentu hal ini sangat membuat kita kecewa.
Pilihan Drone dengan batere yang tahan lama (awet), hal ini sebenarnya tak hanya untuk pemula, bahkan semua orang perlu memperhatikan kualitas Batere yang terpasang pada Drone tersebut.
Jenis Batere yang banyak digunakan untuk Drone adalah Li-Po (Lithium Polymer) dengan daya yang berbeda-beda, dan umumnya batere yang digunakan memiliki kapasitas 2200mAh.
Dari besar kapasitas batere, dapat ditentukan masa terbang dari Drone tersebut, semakin besar kapasitas batere yang digunakan Drone juga dapat lebih lama diterbangkan, namun tentunya bentuk batere lebih besar dan bobotnya lebih berat.
Selain itu Drone dengan batere yang tahan lama tentu dibanderol dengan harga yang cukup mahal.
Secara umum Drone tipe standar dapat diterbangkan maksimal selama 15 menit saja, alternatifnya anda harus menyediakan cadangan batere selama menunggu batere tersebut di-charge.
4. Pilih Drone dengan Camera Built-in.
Drone ada yang dijual sudah lengkap dengan Kamera (Camera Built-in), dan ada juga yang dijual terpisah.
Bagi anda yang tergolong masih pemula, sebaiknya memilih Drone yang sudah terpasang kamera dari pabrikan, disamping harganya lebih hemat, tentunya akan lebih mudah dan lebih praktis bagi anda untuk mengoperasikannya.
5. Pilih Drone dengan Kamera 2MP
Kualitas kamera atau Resolusi kamera tentu perlu anda perhatikan untuk mendapatkan hasil jepretan yang tidak mengecewakan, saat drone mengambil foto diudara.
Drone yang dilengkapi kamera 2MP, dengan harga kisaran 1 jutaan, dapat menjadi pilihan terbaik bagi anda.
6. Pilih Drone dengan jangkauan kendali 100meter
Drone dapat diterbangkan dengan jangkauan remote control yang berbeda-beda, ada Drone yang memiliki jangkauan sinyal kendali jarak jauhnya dapat berkilo-kilometer, namun ada juga yang hanya dapat dikendalikan dengan jarak maksimal 20 meter.
Bagi anda yang masih pemula, sebaiknya memilih Drone yang dapat dikendalikan dari jarak 100meter saja. Hal ini tentu akan memberikan kemudahan bagi anda memonitor Drone tersebut.
Drone dengan harga 1 jutaan, dengan jarak kendali 100 meter menjadi pilihan drone terbaik bagi pemula.
7. Pilihan Drone dengan berbagai Merek dan Tipe
Untuk mendapatkan Drone yang cocok bagi anda yang masih pemula, beberapa hal yang sudah kita sebutkan diatas dapat menjadi panduan bagi anda untuk mendapatkan Drone terbaik dan sesuai dengan yang anda butuhkan.
Apa Merek dan Tipe Drone yang harus anda beli?
Tersedia berbagai merek dan tipe Drone, dengan harga 1jutaan dan sudah dilengkapi dengan berbagai fitur-fitur yang kita sebutkan diatas.
Anda dapat browsing di internet, dengan kata kunci "Drone terbaik saat ini harga 1 jutaan", anda akan diberikan berbagai pilihan Drone terbaik dan cocok untuk anda.
Kini anda dapat menentukan pilihan Drone mana yang terbaik menurut selera anda, dari segi warna, ukuran, bentuk dan lainnya.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Perbedaan satuan KW, KVA, KWH, KVAr, dan penjelasannya
Apa yang dimaksud dengan KVA, KW, Watt, KWH, KVar, dan apa perbedaannya?
Mungkin kita pernah menjumpai satuan listrik yang terkadang tertulis dengan menggunakan Watt, KW, atau KVA.
Dan hal ini sering menjadi pertanyaan bagi kita, apa sih sebenarnya beda satuan KW dengan KVA, dan 1 kw itu berapa KVA, atau mungkin sebaliknya 1 KVA berapa KW?
Selain itu,kita juga sering mendengar istilah KWH, Lalu pertanyaannya, 1 KWH itu berapa Watt, atau 1 Kw itu berapa KWH?
Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, berikut penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan KVA, KW, Watt, KWH, Kvar, serta apa perbedaannya.
Apa yang dimaksud dengan KVA, KW, KVAr, dan KWH?
Dalam ilmu kelistrikan 3 phase, dikenal 3 macam Daya listrik yang biasa juga disebut dengan segitiga Daya, yaitu:
Daya Semu (KVA)
Daya Aktif (KW)
Daya Reaktif (KVar)
KVA
KVA singkatan dari Kilo Volt Ampere, untuk daya listrik yang tidak terlalu besar biasanya cukup dengan menggunakan satuan daya listrik VA (Volt Ampere).
1 KVA = 1000 VA
KVA adalah satuan daya listrik yang didapat dari hasil perhitungan rumus daya, atau biasa juga disebut dengan Daya Nominal (daya yang tertulis).
KVA = Daya Semu
Besaran Daya dalam satuan KVA belum merupakan daya sebenarnya, sehingga Total Daya dalam satuan KVA disebut dengan daya Semu.
KW
KW adalah singkatan dari Kilo watt, untuk satuan daya listrik yang nilainya lebih kecil cukup dengan menggunakan satuan W (Watt).
Baca juga: Sejarah satuan Watt, KW, HP, PK, PS dan penjelasannya
1 KW = 1000 Watt
KW adalah satuan daya listrik yang didapat dari hasil perkalian Daya semu (KVA) dengan faktor daya (Cosphi).
KW = KVA x Cosphi
Besaran daya dalam satuan KW adalah besaran daya yang sebenarnya, sehingga daya dalam satuan KW biasa disebut dengan Daya Aktif (KW).
Terkadang timbul pertanyaan, 1 KW berapa KVA?
Untuk mengetahui hasilnya, maka harus diketahui berapa nilai Cosphi atau Faktor daya instalasi atau alat listrik tersebut.
Untuk nilai cosphi = 1, maka 1 KVA sama dengan 1 KW.
KVAr
KVAr adalah singkatan dari Kilo Volt Ampere Reaktif, atau dalam satuan yang lebih kecil biasa menggunakan satuan Var (Volt Ampere Reaktif).
1 KVAr = 1000 Var
KVAr ini adalah satuan daya reaktif, yang menyatakan seberapa besar daya reaktif yang dihasilkan dari berbagai peralatan listrik yang digunakan, semakin besar Daya reaktif akan berdampak semakin besar kerugian atau selisih antara Daya semu dengan daya Nyata akan semakin besar.
KWH
KWH adalah singkatan dari Kilo Watt Hour.
KWH adalah satuan yang menyatakan seberapa besar daya listrik yang terpakai dalam satu jam, dengan besaran daya listriknya adalah Kilo watt.
1 KWH adalah pemakaian Alat listrik dengan daya sebesar 1000 Watt (1 KW) dalam satu jam.
1 KWH = 1000Watt dalam 1 jam
Jadi jika pertanyaannya adalah 1 KWH itu berapa Watt?
Tentu tidak ada jawabannya, karena untuk menjawab pertanyaan ini harus diketahui dulu berapa daya listrik dan berapa lama digunakan.
Apakah 1000 Watt = 1 KWH?
Belum tentu, jika suatu alat listrik dengan daya listrik sebesar 1KW (1000Watt) digunakan dalam 1 Jam, maka hasilnya adalah 1 KWH, namun jika daya 1000Watt digunakan selama 0,5 Jam, maka hasilnya adalah 0,5 KWH.
Jadi, untuk mengetahui nilai KWH maka dua hal yang harus kita ketahui yakni, besar daya listrik dan lama pemakaiannya.
Penjelasan:
1KW berapa KVA
Sebagai contoh, jika suatu pembangkit listrik tertulis daya sebesar 250KVA, dengan nilai Cosphi sebesar 0,8, berapa KW pembangkit listrik tersebut?
KW = KVA x Cosphi
KW = 250KVA x 0,8
KW = 200.
Jadi sebuah genset yang tertulis 250KVA hanya memiliki kemampuan maksimal daya sebesar 200KW.
1 KWH berapa KW
Sebagai contoh, suatu alat listrik sebesar 500watt dinyalakan selama 2jam, berapa KWH?
500Watt = 0,5KW
KWH = KW x Lama pemakaian (Jam)
KWH = 0,5KW x 2 jam
KWH = 1
Jadi suatu alat listrik dengan daya sebesar 500Watt (0,5KW) dinyalakan selama 2 jam, maka nilai KWHnya adalah sebesar 1 KWH.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Apa sebenarnya arti kata MUDIK dan LEBARAN?
Apa sebenarnya arti kata Mudik dan Lebaran?
Tradisi Mudik atau Pulang Kampung di hari Lebaran, sudah menjadi Tradisi tahunan di setiap hari raya idul fitri bagi umat islam khususnya di Indonesia, namun pernahkah kita bertanya apa sebenarnya arti kata Mudik dan Lebaran tersebut?
Pulang kampung atau Mudik di hari Lebaran adalah suatu hal yang melengkapi kemeriahan hari raya idul fitri, Lalu kenapa Hari raya Idul fitri sering disebut dengan Lebaran?
dan apa sebenarnya arti dari kata Mudik?
Dari mana kata Lebaran berasal?
Hari raya Idul fitri menjadi puncak moment yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh Umat islam, setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh dibulan Ramadhan.
Hari Raya Idul Fitri menjadi hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh, dan di hari kemenangan ini menjadi momen berkumpul dan saling maaf memaafkan bersama keluarga.
Di Indonesia Tradisi mudik sudah menjadi suatu kewajiban, dan tak lengkap rasanya jika dihari raya idul fitri tidak dapat berkumpul bersama keluarga.
Kenapa Tradisi pulang kampung ini biasa disebut dengan istilah Mudik?
Lalu apa sebenarnya arti kata Mudik, dan darimana asal usul kata Mudik tersebut?
Bagi Umat islam khususnya di Indonesia, Tradisi Mudik sudah menjadi tradisi sejak dulu kala.
Arti kata Mudik dan Lebaran
Arti kata Mudik
Istilah kata Mudik berasal dari Bahasa Jawa, yang terdiri dari 2 kata, yaitu:
Mulih, yang berarti Pulang
Dilik, yang berarti sebentar
Mudik = Mulih & Dilik
Mudik berasal dari kata "Mulih Dilik" dalam bahasa jawa yang berarti Pulang sebentar.
Mudik digunakan sebagai istilah bagi umat islam dalam melakukan kegiatan Pulang Kampung dalam waktu yang sebentar sambil merayakan Hari raya idul fitri, berkumpul bersama keluarga untuk bersilahturahmi dan saling maaf memaafkan.
Namun menurut Wikipedia, Mudik sendiri berasal dari kata Udik yang berarti Hulu, atau biasa kita sebut juga dengan kembali ke desa/kampung (Udik).
Mudik = Udik
Arti kata Lebaran
Lebaran adalah suatu kata yang sering digunakan untuk menyebutkan hari raya idul fitri.
Belum ada yang dapat menjelaskan secara jelas mengenai darimana sebenarnya kata Lebaran tersebut berasal dan apa hubungannya dengan Hari raya idul fitri.
Namun ada beberapa versi mengenai asal usul kata Lebaran dan apa pengertian dari kata Lebaran tersebut.
Menurut MA.Salmun melalui artikelnya dalam bahasa sunda pada tahun 1954, kata Lebaran berasal dari bahasa Hindu yang berarti Selesai, Habis atau Usai.
Lebaran = Usai, Selesai
Pengertian Kata Lebaran ini dapat dikaitkan dengan hari raya Idul fitri yang ditandai dengan telah selesai atau usainya Bulan ramadhan.
Selain itu, Kata Lebaran juga sering digunakan oleh masyarakat Betawi yang diartikan sebagai suatu Kelapangan (Lebar-An), Kelegaan setelah berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan, dan kegembiraan menyambut hari raya idul fitri.
Lebaran = Lebar, Lega
Namun, apapun makna kata Lebaran tersebut, kita tentu dapat menggambarkan maksudnya sebagai suatu hari kemenangan dan hari berbahagia, setelah berpuasa.
Lebaran dan Mudik seolah menjadi dua hal yang tak dapat dipisahkan bagi umat islam di Indonesia.
Karena Lebaran identik dengan tradisi Mudik atau pulang kampung, berkumpul dan saling bermaafan dengan keluarga.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Mengenal Arrester, apa fungsi dan bagaimana prinsip kerja serta pemasangannya
Arrester atau dikenal dengan Surge Arrester adalah suatu alat yang berfungsi untuk melindungi instalasi listrik, peralatan listrik, alat elektronik saat terjadi lonjakan tegangan atau tegangan lebih (Over Voltage), Saat terjadi Lonjakan tegangan, maka Surge Arrester akan mengalirkan lonjakan tegangan listrik tersebut menuju bumi, sehingga lonjakan tegangan tersebut tidak sampai merusak berbagai peralatan listrik maupun alat elektronik.
Surge Arrester
Apa yang dimaksud dengan Arrester, Surge Arrester, Lightning Arrester?
Apa Fungsi Arrester pada instalasi listrik?
Bagaimana cara kerja Arrester untuk melindungi alat listrik saat terjadi lonjakan tegangan?
Banyak yang menyebut alat ini hanya dengan sebutan Arester (Arrester), namun sebenarnya alat ini disebut dengan Surge Arrester.
Arrester atau Surge Arrester berasal dari bahasa inggris yang dapat diartikan secara sederhana sebagai Penangkap Kejutan.
Apa yang dimaksud dengan Arrester?
Surge Arrester adalah suatu alat yang dipasang pada suatu instalasi listrik yang berfungsi untuk melindungi berbagai peralatan listrik yang ada pada instalasi tersebut, saat terjadi lonjakan tegangan (Over voltage) yang melebihi batas toleransi yang diperbolehkan.
Penyebab terjadinya Lonjakan Tegangan
Terjadinya lonjakan tegangan listrik pada suatu instalasi atau jaringan Listrik dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti sambaran petir tidak langsung, Over Voltage karena permasalahan pada pembangkit, terjadinya hubung singkat (Korsleting), maupun lonjakan tegangan listrik saat terjadi Switching (Penyalaan).
Baca juga: Prinsip kerja Penangkal Petir (Lightning Protection)
Lonjakan tegangan yang disebabkan beberapa faktor diatas akan menyebabkan Tegangan listrik yang mengalir pada suatu instalasi listrik menuju berbagai peralatan listrik nilainya melebihi tegangan normal, dan akibatnya dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan listrik.
Dampak petir pada instalasi listrik
Seperti kita ketahui, bahwa berbagai peralatan listrik dan alat elektronik yang kita gunakan sangat sensitif terhadap lonjakan tegangan, sehingga saat terjadi lonjakan tegangan akan menyebabkan kerusakan pada peralatan listrik dan elektronik tersebut.
Oleh karena itulah, dibutuhkan suatu alat yang dapat mencegah Lonjakan tegangan tersebut agar tidak sampai merusak berbagai peralatan listrik yang kita miliki, alat tersebut adalah Surge Arrester.
Pemasangan Surge Arrester
Surge Arrester harus dipasang pada sumber listrik utama sebelum dialirkan ke berbagai peralatan listrik agar seluruh peralatan listrik dapat di proteksi dengan baik.
Prinsip kerja Surge Arrester
Saat tegangan yang mengalir pada Instalasi listrik memiliki nilai tegangan normal, maka Surge Arrester belum bekerja.
Kemudian pada saat Tegangan yang mengalir tiba-tiba melonjak dan besar tegangannya melebihi toleransi tegangan normal, maka Surge Arrester akan bekerja secara otomatis mengalirkan tegangan lebih tersebut menuju pentanahan atau Bumi (Arde).
Pemasangan Arde (Grounding) yang benar
Untuk mendaparkan fungsi Arrester bekerja dengan baik maka perlu dipastikan bahwa Grounding atau Arde sudah terpasang dengan benar (tahanan <2ohm).
Cara mengukur tahanan Grounding
Saat Surge Arrester bekerja mengalirkan tegangan lebih menuju Bumi, maka akan terjadi lonjakan arus yang sangat besar, karena peristiwa ini sama halnya dengan kejadian kebocoran arus listrik menuju bumi.
Lonjakan arus yang terjadi karena tegangan lebih dialirkan ke bumi akan mengakibatkan pengaman arus lebih yang terpasang sebelum Surge Arrester akan bekerja memutuskan Aliran listrik utama.
Jadi, saat terjadi Lonjakan Arus listrik pada suatu instalasi listrik yang sudah terpasang Surge Arrester, maka Pengaman Arus lebih akan bekerja memutuskan Arus listrik langsung dari sumber utama, Sehingga Lonjakan tegangan listrik yang terjadi tidak sampai mengalir ke berbagai peralatan listrik pada instalasi listrik tersebut, karena Surge arrester lebih dulu mendeteksinya dan mengalirkannya ke bumi.
Terdapat berbagai jenis, model dan ukuran Surge Arrester yang dapat disesuaikan dengan fungsi, ukuran dan pemasangannya.
Oleh karena itu, kita sebaiknya melengkapi instalasi listrik kita dengan surge arrester, terutama untuk kita yang menggunakan berbagai peralatan elektronik yang sangat sensitif terhadap lonjakan tegangan, seperti Komputer, Alat ukur digital, Timbangan listrik digital, dan berbagai alat elektronik lainnya yang bernilai mahal dan sensitifitas tinggi terhadap lonjakan arus yang tidak diinginkan.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Pemasangan Handel pemindah listrik PLN ke Genset
Cara memasang Instalasi kabel pada handel pemindah Listrik PLN dan Genset
Bagaimana cara Instalasi Listrik dari Genset dan PLN dengan menggunakan Handel manual?
Gambar Rangkaian Kabel Handel pemindah listrik PLN ke Genset sendiri?
Bagaimana Cara yang benar untuk memasang Kabel-kabel Handel pemindah listrik PLN ke Genset di rumah?
Bagaimana Cara memasang Handel listrik PLN dan Genset?
Bagi anda yang menggunakan Listrik PLN dan Genset di rumah, tentunya menggunakan Handel untuk memindahkan listrik dari PLN ke Genset, lalu bagaimana cara memasang Handel tersebut?
Pada umumnya listrik yang ada di rumah-rumah kita berasal dari listrik PLN, namun sebagian orang ada juga yang menyediakan Genset sendiri dengan tujuan agar saat Listrik dari PLN padam, Genset tersebut dapat dinyalakan untuk menggantikan Listrik PLN yang padam.
Saat Listrik dari PLN padam, maka Genset tersebut kita nyalakan dan dialirkan ke rumah dengan bantuan Handel pemindah listrik dari PLN ke Genset.
Handel pemindah aliran listrik dari PLN ke Genset dipasang agar Listrik dari PLN dan Genset tidak bertabrakan dan terjadi Korsleting, karena Listrik dari PLN dan Genset memiliki perbedaan tegangan.
Saat Listrik PLN padam kemudian Genset dinyalakan dan listrik dari genset tersebut dialirkan ke rumah, namun dikhawatirkan saat PLN tiba-tiba menyala maka akan mengakibatkan Listrik PLN dan Genset berjumpa dan mengakibatkan Korsleting.
Handel pemindah PLN ke Genset harus dipasang dengan benar, agar tidak terjadi korsleting saat listrik PLN dan Genset menyala bersamaan.
Cara Memasang Handel pemisah PLN dan Genset
Lalu, bagaimana cara yang benar untuk memasang kabel listrik PLN dan Genset pada Handel tersebut?
Berikut ini cara memasang kabel listrik PLN dan Genset yang benar dan aman, agar tidak terjadi korsleting meski Listrik dari PLN dan Genset menyala bersamaan.
Cara memasang Kabel Handel pemindah Listrik PLN dan Genset
Gambar rangkaian kabel instalasi Handel pemindah PLN ke Genset
Panduan pemasangan Handel:
Sebelum memulai pekerjaan pemasangan handel dan kabel-kabelnya, hal pertama yang harus anda lakukan adalah padamkan seluruh sumber listrik baik dari PLN maupun dari Genset.
Pada Handel tersebut tersedia 3 bagian pemasangan kabel, yang masing-masing terdiri dari dua atau tiga baut terminal. (anda dapat memasang dua kabel saja, satu baut teminal dibiarkan kosong dan dapat digunakan jika terminal lain ada yang rusak, namun jika satu kabel dipindah, maka kabel lainnya juga harus dipindah dan disejajarkan.
Bagian baut terminal kabel yang di barisan tengah untuk pemasangan kabel listrik yang menuju ke instalasi listrik di rumah anda.
Bagian Baut terminal kabel bagian atas dan bagian bawah digunakan untuk memasang kabel listrik yang berasal dari PLN dan Genset, anda dapat memasang kabel listrik dari PLN di bagian atas dan kabel dari Genset dibagian bawah, atau bisa juga sebaliknya.
Pastikan pemasangan kabel sejajar antara kabel fasa dan kabel Netral dari masing-masing bagian, jika pada bagian tengah terminal kita pasang posisi kabel fasa di sebelah kanan dan netral di bagian kiri, begitu juga dengan kabel terminal untuk fasa dan netral baik dari PLN maupun dari genset.
Sebagai contoh:
Jika kabel fasa yang menuju ke instalasi rumah dipasang di sebelah kanan dari terminal bagian tengah, maka kabel fasa dari PLN dan kabel fasa dari Genset juga harus dipasang disebelah kanan pada masing-masing terminal, dan kabel netral dipasang disebelah kiri pada masing-masing bagian terminal Handel.
Pastikan pemasangan seluruh kabel sudah terpasang dengan benar dan kencang (tidak longgar).
Pastikan semua kabel sudah terpasang dengan benar dan kencangkan, sebelum listrik dinyalakan kembali.
Catatan:
Jika anda merasa ragu untuk memasang sendiri handel tersebut, sebaiknya anda meminta bantuan teknisi listrik yang berpengalaman untuk memasangnya.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Prinsip kerja Penangkal Petir atau Lightning Protection dan cara pemasangannya
Fungsi Sistem Penangkal petir atau Lightning Protection, bagaimana prinsip kerjanya serta cara pemasangannya.
Penangkal petir sering disebut juga dengan Anti petir atau dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Lightning Protection.
Apa fungsi Lightning Protection?
Bagaimana cara kerja penangkal petir?
Bagaimana Pemasangan Penangkal petir yang benar?
Penangkal Petir (Lightning Protection)
Penangkal petir atau Lightning Protection adalah suatu Alat atau sistem rangkaian yang berfungsi untuk menangkap sambaran petir dan mengalirkannya ke Bumi.
Penangkal petir atau disebut dengan Lightning Protection dipasang berfungsi sebagai cara untuk meminimalkan atau mencegah resiko bahaya serta kerusakan yang dapat terjadi ketika Petir dengan kekuatan listrik yang sangat besar menyambar ke bumi.
Sambaran petir dapat menyambar gedung-gedung yang tinggi, bangunan, kabel jaringan listrik, Instalasi listrik di rumah, maupun alat-alat listrik serta alat elektronik yang ada didalam bangunan tersebut. Dampak petir terhadap instalasi listrik
Petir
Petir adalah: fenomena alam yang biasa terjadi saat akan turun hujan, dan dapat menghasilkan energi listrik dengan tegangan yang sangat besar.
Energi listrik yang dihasilkan Petir ini terjadi karena adanya pergeseran awan sehingga menyebabkan terjadinya gesekan antara dua jenis lempengan yang memiliki muatan yang berbeda, baik itu lempengan awan dengan awan maupun gesekan antara Lempengan awan dengan bumi.
2 Jenis Sambaran Petir
Sambaran Petir ke bumi dibagi menjadi dua jenis, yaitu sambaran petir langsung maupun tidak langsung.
Sambaran petir langsung adalah saat petir menyambar ke bumi langsung mengenai berbagai benda yang ada dibumi, seperti gedung, kabel, jaringan listrik dan sebagainya, Sambaran petir langsung ini memiliki dampak bahaya atau kerusakan yang sangat fatal.
Untuk mencegah bahaya dari sambaran petir langsung ini, maka setiap bangunan, gedung, pabrik dan lainnya dipasang tiang anti petir atau biasa disebut dengan Lightning Protection, yang pemasangannya dibuat lebih tinggi dari bangunan yang ada.
Sambaran petir tidak langsung adalah saat petir menyambar ke bumi, dan sambarannya tidak langsung mengenai benda-benda yang ada dibumi, namun efek dari sambaran petir tidak langsung ini menghasilkan induksi listrik yang dapat mengalir melalui kabel-kabel jaringan listrik, dan menyebabkan tegangan listrik yang mengaliri jaringan tersebut menjadi meningkat atau melonjak sehingga dapat mengakibatkan kerusakan pada peralatan listrik dan alat elektronik.
Untuk mencegah kerusakan berbagai peralatan listrik dan elektronik akibat lonjakan tegangan dari sambaran petir tidak langsung, maka setiap instalasi listrik dan peralatan listrik perlu dilengkapi dengan alat pengaman kejutan listrik atau disebut dengan Surge Arrester.
Prinsip kerja Penangkal petir (Lightning Protection)
Penangkal Petir atau Lightning Protection berfungsi untuk menangkap sambaran petir langsung yang menyambar ke bumi dan kemudian mengalirkan energi listrik dari sambaran petir tersebut menuju Bumi.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan sistem penangkal petir atau Lightning Protection yang baik, maka sistem pentanahan harus dipastikan terpasang dengan baik dengan nilai tahanan lebih kecil dari 2 Ohm (<2Ω)
Sebenarnya istilah yang lebih tepat untuk menyebutkan alat ini adalah Penangkap Petir bukan Penangkal, karena prinsip kerjanya adalah menangkap sambaran petir dan kemudian mengalirkannya menuju Bumi untuk dinetralisir.
Pemasangan Penangkal Petir (Lightning Protection)
Komponen-komponen pemasangan Anti petir (Lightning Protection).
Untuk memasang sistem penangkal petir dibutuhkan beberapa komponen atau material, antara lain:
Head Terminal (Penangkal Petir)
Head Terminal dari penangkal petir dipasang diatas tiang atau tower penangkal petir sebagai alat untuk menangkap sambaran petir.
Bagian Head dipasang pada lokasi dan jarak yang disesuaikan dengan radius Penangkal petir yang digunakan, dengan tujuan agar seluruh bangunan yang ada dapat terlindungi dengan baik.
Sebagai contoh: jika menggunakan penangkal petir Thomas TP 125, maka radiusnya dapat mencapai 125 meter.
Ketinggian pemasangan Head dari atas bangunan disesuaikan dengan sudut kemiringan dari puncak Head penangkal petir sebesar 45 derajat, agar perlindungan dapat mencakup seluruh area bangunan yang ada.
Kabel penyalur ke bumi (Kabel BC 50mm2)
Kabel BC (Bore Copper) 50mm2 dipasang untuk menghubungkan Head Penangkal petir dan dialirkan ke bumi melalu grounding rod.
Panjang kabel disesuaikan dengan jarak ketinggian dari Head Terminal menuju Bumi (Grounding).
Grounding Rod (Pentanahan)
Grounding rod adalah sejenis tembaga batangan yang ditanam di dalam tanah untuk mendapatkan sistem pentanahan yang baik dengan nilai tahanan <2ohm.
Pemasangan sistem pentanahan (Grounding)
Kedalaman pemasangan Grounding Rod didalam tanah disesuaikan dengan nilai tahanan Grounding yang didapat, jika Grounding rod sudah ditanam dengan kedalaman yang cukup dalam namun nilai tahanan masih lebih dari 2 Ohm, maka dapat dilakukan penambahan beberapa titik Grounding Rod dengan dihubungkan secara Paralel hingga didapat tahanan yang baik, yakni <2ohm.
Cara pengukuran tahanan Grounding
Nilai tahanan atau Grounding yang baik menjadi faktor utama Keberhasilan dari penangkal petir yang dipasang.
Label:
berita harian viral,
berita paling viral,
berita viral 2017,
berita viral artis,
berita viral hari ini,
berita viral hot,
berita viral indonesia,
berita viral terbaru,
berita viral terkini
Cara Menghitung Biaya Pemakaian Listrik Industri
Bagaimana cara menghitung biaya pemakaian listrik untuk Industri, dengan sistem instalasi listrik 3 phase tegangan 380 Volt (Phase-Phase) / 220 Volt (Phase-Netral)?
Pada postingan sebelumnya kita telah membahas mengenai bagaimana cara Menghitung Tagihan listrik sebulan, khususnya untuk pemakaian listrik Rumah tangga.
Pada kesempatan kali ini, kita akan coba membahas bagaimana cara menghitung tagihan listrik perbulan untuk pemakaian listrik Industri, yang menggunakan tegangan 380volt listrik 3phase.
Berbeda dengan perhitungan pemakaian listrik rumah tangga (tegangan 220Volt / 1phase), Untuk dapat menghitung pemakaian listrik industri dengan tegangan 380volt / 3phase, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui terlebih dahulu, antara lain:
Total kebutuhan daya listrik (KW), Untuk menentukan besar Daya Terpasang
Daya terpasang (KVA)
Lama pemakaian listrik (Jam) pada Waktu Beban Puncak (WBP)
Lama pemakaian listrik (Jam) Luar Waktu Beban Puncak (LWBP)
Faktor perbandingan harga WBP dengan LWBP
Perhitungan KWH meter
Faktor perkalian CT pada KWH meter
Faktor daya (Cosphi)
Total Daya reaktif (KVArh)
Baca juga: Perbedaan satuan KVA, KW, KVAr, KWH
Untuk lebih jelasnya, kita akan coba membuat contoh perhitungan biaya tagihan listrik untuk industri, berikut ini.
Menghitung Biaya Pemakaian Listrik Industri
Contoh perhitungan:
Pada suatu industri yang menggunakan Listrik dari PLN untuk kebutuhan berbagai peralatan listriknya, adapun listrik yang digunakan adalah listrik 3 phase dengan Tegangan 380Volt / 220Volt, dengan rincian kebutuhan daya berbagai peralatan listrik yang digunakan sebagai berikut:
Total Kebutuhan Daya:
1 unit Elektro motor 3 phase 380 Volt daya 75KW
2 unit Elektro motor 3 phase 380 Volt daya 30KW
1 Unit Elektro motor 3 phase 380 Volt daya 15KW
1 unit elektro motor 3 phase 380 volt daya 7,5 kw
1 unit Heater 3 phase 380 Volt daya 22KW
1 unit Blower 3phase 380 Volt daya 18KW
Lampu mercury 250watt sebanyak 30 buah (10 buah / phase), total 2,5kw
Total kebutuhan daya = 75kw + (2 x 30kw) + 15kw + 7,5kw + 22kw + 18kw + 2,5kw.
Total kebutuhan Daya: 200KW
Daya Terpasang
Dari perhitungan Total daya berbagai peralatan listrik yang digunakan industri tersebut diatas, dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan Daya Terpasang dari PLN.
Karena Total kebutuhan daya pada industri tersebut adalah sebesar 200KW, maka Daya yang terpasang pada Industri tersebut termasuk dalam Golongan Tarif I3/TM (Daya diatas 200KVA), dengan menggunakan sebuah Trafo dengan daya 250KVA.
Daya terpasang > Kebutuhan Daya
Daya terpasang adalah diatas 200KVA dan termasuk dalam Golongan Tarif I3/TM.
Lama Pemakaian Daya listrik
Karena Industri tersebut beroperasi selama 12 jam dari mulai pukul 08.00-20.00 setiap harinya, Maka dapat dihitung lama pemakaian listrik adalah sebagai berikut:
Lama pemakaian listrik pada Waktu Beban Puncak (WBP)
Waktu beban puncak ditetapkan dari mulai jam 17.00 sampai dengan 20.00 atau selama 3 Jam.
Lama pemakaian listrik pada Waktu Beban Puncak (WBP) selama sebulan, menjadi:
3 Jam x 30 Hari = 90 Jam/bulan.
Lama Pemakaian listrik Luar Waktu Beban Puncak (LWBP)
Lama pemakaian listrik Luar Waktu Beban Puncak (LWBP) selama sebulam, menjadi:
(12 jam - 3 jam) x 30 Hari = 270 jam/bulan.
Faktor perbandingan harga WBP dan LWBP (K)
Faktor perbandingan harga WBP dan LWBP (K) disesuaikan dengan karakteristik beban sistem kelistrikan yang digunakan, dan hal ini ditetapkan oleh Direksi Perusahaan Perseroan PT.PLN
Nilai perbandingannya (K) antara 1,4 s/d 2
Contoh perhitungan: Dalam hal ini kita anggap Listrik industri tersebut dikenakan perbandingan harga saat pemakaian Waktu Beban Puncak (WBP) sebesar 1,4.
K = 1,4.
Perhitungan KWH Meter
Perhitungan KWH meter untuk mengetahui jumlah pemakaian atau KWH sebulan pada instalasi listrik 3 phase/ 380volt, berbeda dengan perhitungan KWH meter pada listrik 1 phase seperti yang biasa terpasang di rumah-rumah.
KWH meter yang biasa kita gunakan di rumah, kita dapat mengetahui jumlah pemakaian KWH sebulan hanya dengan mengurangkan Angka KWH Akhir dengan Angka KWH Awal.
Namun untuk menghitung total pemakaian KWH sebulan pada KWH meter Instalasi listrik 3 phase, menggunakan perhitungan:
(KWH Akhir - KWH Awal) x Faktor perkalian CT
Faktor Perkalian CT pada KWH meter 3 phase
Sebagai contoh: Jika Pada instalasi listrik Industri tersebut dipasang KWH-Meter 3phase, dengan menggunakan Ratio CT sebesar 500/5, atau Faktor perkaliannya adalah 500 : 5 = 100.
Berbeda dengan KWH Meter yang biasa digunakan untuk instalasi listrik rumah tangga, KWH meter 3 phase dengan daya yang cukup besar biasanya harus menggunakan faktor perkalian dari CT yang terpasang.
Jika CT yang terpasang pada KWHmeter adalah 500/5, ini berarti setiap 500 Ampere daya yang terukur maka CT akan mengirimkan sinyal arus sebesar 5 Ampere ke KWH meter.
Ukuran CT yang digunakan pada KWH meter 3phase menjadi faktor perkalian untuk menghitung total KWH yang terpakai.
Contoh perhitungan:
Pada KWH meter yang terpasang pada industri tersebut tercatat data KWH awal dan KWH Akhir selama sebulan adalah sebagai berikut:
KWH awal : 00000
KWH akhir : 00540
Total Pemakaian (KWH): (KWH akhir - KWH awal) x Faktor perkalian (CT)
Total Pemakaian (KWH): (00540 - 00000) x 100
Total Pemakaian (KWH): 54.000 KWH/bulan
Dengan pembagian beban WBP dan LWBP, sebagai berikut:
Beban WBP = (54.000 kwh : 12 jam) x 3 Jam = 13.500 kwh/bulan
Beban LWBP = (54.000 kwh : 12 jam) x 9 Jam = 40.500 kwh/bulan
Faktor Daya (Cosphi)
Faktor Daya (Cosphi) adalah nilai perbandingan antara Daya Semu (KVA) dengan Daya Aktif (KW).
Semakin baik faktor daya pada instalasi listrik 3 phase maka nilai Daya Aktif semakin mendekati nilai daya semu.
Penjelasan mengenai Daya Semu, Daya Aktif dan Daya reaktif
Jika suatu instalasi listrik memiliki nilai faktor daya (cosphi) = 1, maka nilai daya aktif sama dengan nilai daya semu.
Jika Cosphi = 1,00. maka Daya aktif (KW) = Daya Semu (KVA)
Faktor daya (Cosphi) dipengaruhi oleh seberapa besar Daya reaktif yang dihasilkan oleh instalasi listrik tersebut, dan daya reaktif ini berasal dari pemakaian berbagai alat-alat listrik yang menghasilkan induksi atau daya harmonik.
Semakin banyak jumlah pemakaian peralatan listrik yang menghasilkan daya harmonik, maka Daya reaktif yang dihasilkan akan semakin besar.Semakin besar daya reaktif yang dihasilkan maka semakin rendah nilai faktor daya (Cosphi) pada instalasi listrik tersebut.
Pada perhitungan Tagihan listrik untuk industri, jika faktor daya yang dihasilkan lebih rendah dari 0,85. maka akan terjadi penambahan biaya yang dihitung berdasarkan daya reaktif yang dihasilkan.
Untuk menghindari meningkatnya biaya tagihan listrik untuk industri, maka faktor daya harus diupayakan lebih besar dari 0,85, cara untuk memperbaiki faktor daya adalah dengan memasang Capasitor Bank pada instalasi listrik tersebut.
Cara menghitung kebutuhan Kapasitor Bank
Contoh perhitungan: Faktor daya pada listrik Industri tersebut adalah 0.90, nilai faktor daya diperbaiki dengan menggunakan Capasitor Bank, sehingga perusahaan tersebut tidak dikenakan biaya kelebihan daya reaktif (KVArh).
Cara memasang Capasitor Bank dan rangkaiannya
Total Daya Reaktif (KVArh)
Jika suatu instalasi listrik 3phase memiliki faktor daya dibawah 0,85 maka akan dikenakan biaya kelebihan pemakaian daya reaktif yang nilainya untuk golongan tarif I3, adalah sebesar:
Biaya kelebihan Daya reaktif untuk Golongan Tarif I3 = Rp.1.114,74/KVArh.
Contoh perhitungan: Karena instalasi listrik pada industri tersebut memiliki faktor daya 0,90 atau lebih besar dari 0,85. maka tidak dikenakan biaya kelebihan pemakaian daya reaktif (KVArh).
Total Biaya Pemakaian Listrik
Total Biaya Pemakaian Listrik untuk Industri Golongan Tarif I3 tersebut, adalah sebagai berikut:
Biaya Beban
Biaya Beban = Rp. 0 (Biaya beban dikenakan jika Lama pemakaian kurang dari 40 Jam/bulan)
Total Biaya WBP + LWBP
Biaya Pemakaian Waktu Beban Puncak (WBP):
K x KWH x Rp.1.035,78
1,4 x 13.500kwh x Rp.1.035,78 = Rp.19.576.242
Biaya Pemakaian Luar Waktu Beban Puncak (LWBP):
Kwh x Rp.1.035,78
40.500kwh x Rp.1.035,78 = Rp.41.949.090
Total Biaya Pemakaian Listrik: Rp.19.576.242 + Rp.41.949.090 = Rp.61.525.332
KVArh
Biaya pemakaian Daya Reaktif (KVArh) = Rp.0 (Dikenakan biaya KVArh jika Faktor daya dibawah 0,85).
PPJ
Biaya Pajak Penerangan Jalan (PPJ): 3% x Rp.61.525.332 = Rp.1.845.759,96
Materai
Biaya Materai: Rp.6.000
Total biaya keseluruhan yang harus dibayar oleh Industri tersebut, adalah: Rp.63.377.091,96
Semoga bermanfaat!
Pengertian Gaya Gerak Listrik (GGL), Tegangan Jepit dan rumus perhitungannya
Apa yang dimaksud dengan Gaya Gerak Listrik (GGL), Tegangan Jepit dan bagaimana cara menghitungnya?
Pengertian Gaya Gerak Listrik (GGL) dan Tegangan Jepit
Seperti yang kita ketahui bahwa Energi Listrik dihasilkan dari suatu sumber listrik seperti Generator, Batere, dan lainnya.
Listrik tersebut memiliki besar Tegangan yang diukur dalam satuan Volt, dan Tegangan listrik ini berasal dari perbedaan nilai potensial antara dua kutub atau ujung-ujung penghantar yang berbeda dari suatu sumber listrik.
Tegangan adalah beda Potensial.
Seperti halnya sebuah batere yang biasa kita gunakan sehari-hari, terdapat dua kutub pada batere tersebut yang biasanya terdiri dari Kutub Positif (+) dan kutub Negatif (-).
Sebagai contoh: jika sebuah batere memiliki tegangan listrik sebesar 12Volt, ini berarti bahwa perbedaan nilai potensial antara Kutub positif dan kutub negatif pada batere tersebut adalah sebesar 12Volt, Besar Tegangan inilah yang disebut dengan GGL.
GGL dan Tegangan Jepit
GGL atau Gaya Gerak Listrik (E)
Besar tegangan yang didapat dari perbedaan potensial antara kutub negatif dan kutub positif dari suatu sumber listrik baik itu Batere maupun generator disebut dengan Gaya Gerak Listrik, jika sumber listrik tersebut belum dialirkan ke dalam suatu rangkaian listrik dan belum menghasilkan arus listrik.
GGL adalah: Perbedaan potensial antara kedua Kutub atau ujung-ujung penghantar yang ada pada suatu sumber listrik sebelum dialiri arus listrik atau dalam suatu Rangkaian terbuka. dan besar Tegangan GGL ini disimbolkan dengan E.
Tegangan jepit (V)
Besar tegangan yang didapat dari perbedaan potensial antara kutub yang berbeda dari suatu sumber listrik baik itu Batere maupun generator disebut dengan Tegangan Jepit, jika sumber listrik tersebut sudah dialirkan ke dalam suatu rangkaian listrik dan menghasilkan Arus listrik.
Tegangan Jepit adalah: Perbedaan potensial antara kedua Kutub berbeda atau ujung-ujung penghantar yang ada pada suatu sumber listrik setelah dialiri arus listrik atau terhubung pada suatu Rangkaian tertutup. besar Tegangan Jepit ini disimbolkan dengan V.
Dari perbedaan antara GGL dan Tegangan Jepit diatas, mengakibatkan adanya perbedaan besar tegangan antara GGL dan Tegangan Jepit dan didapat bahwa Tegangan GGL lebih besar dari Tegangan Jepit.
GGL > Tegangan Jepit
Contoh perhitungan:
Suatu Sumber listrik yang memiliki GGL dengan besar tegangan (E Volt) dengan nilai hambatannya (r) adalah 0,5 ohm , dialirkan dalam suatu rangkaian tertutup mengalir melalui suatu resistor (R) dengan nilai Tahanan 7,5 ohm, dan menghasilkan arus listrik sebesar 3 Ampere.
Pertanyaannya, berapa besar tegangan GGL (E) dan berapa besar Tegangan Jepit (V)?
Rumus menghitung GGL (E):
E = I x (r + R)
E: Gaya Gerak Listrik
I: Arus Listrik yang mengalir
r: Nilai hambatan dari sumber tegangan
R: Nilai Tahanan dalam suatu rangkaian
E = 3 Ampere x (0,5 ohm + 7,5 ohm)
E = 3 Ampere x 8 ohm
E = 24 Volt.
Besar GGL saat sumber listrik belum dialiri arus listrik adalah sebesar 24 Volt.
Rumus menghitungTegangan Jepit (V)
V = I x R
V = Tegangan jepit
I = Arus listrik yang mengalir
R: Nilai Tahanan dalam suatu rangkaian
V = 3 Ampere x 7,5 ohm
V = 22,5 Volt
Besar Tegangan Jepit saat sumber listrik dialiri arus adalah sebesar 22,5 Volt.
Dari perhitungan diatas didapat bahwa terjadi penurunan nilai tegangan listrik sebesar 1,5 Volt, yang semula sumber listrik memiliki besar tegangan GGL sebesar 24 Volt, kemudian saat dialiri arus listrik sebesar 2 Ampere, menyebabkan terjadinya penurunan nilai tegangan menjadi 22,5 Volt.
Tegangan 22,5 Volt inilah yang disebut dengan Tegangan Jepit.
Semoga bermanfaat!
Tempat kita berbagi ilmu
Menghitung Total Daya Reaktif (KVAr)
Cara Sederhana Menghitung Total daya Reaktif yang dihasilkan dari berbagai peralatan listrik pada instalasi listrik 3 fasa
Bagaimana cara menghitung Total Daya reaktif?
Seperti misalnya, Pada Tarif dasar Listrik untuk industri, ada biaya yang dikenakan untuk kelebihan pemakaian Daya reaktif (KVArh), lalu bagaimana cara mengetahui besar Daya reaktif yang dihasilkan?
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui seberapa besar daya Reaktif yang dihasilkan dari berbagai peralatan listrik yang kita gunakan dalam instalasi listrik 3 fasa.
Khususnya di dunia Industri, yang umumnya menggunakan Listrik 3 fasa dengan tegangan 380Volt, Besarnya Daya Reaktif harus diketahui dan selanjutnya dilakukan perbaikan untuk mengurangi besar Total Daya reaktif yang terjadi.
Baca juga: Cara menghitung Biaya tagihan Listrik untuk Industri
Daya Reaktif adalah Daya yang dihasilkan dari berbagai peralatan listrik yang menghasilkan induksi magnetik dan menghasilkan Daya harmonik.
Daya Reaktif sering juga disebut dengan Kerugian Daya.
Berbagai peralatan listrik yang menghasilkan Daya reaktif, antara lain:
Elektro Motor
Trafo Las
Inverter
Lampu mercury non Ballast
UPS
Dan lainnya
Semakin Banyak penggunaan peralatan listrik yang menghasilkan daya Harmonik, akan semakin besar daya reaktif yang dihasilkan, Hal ini akan menyebabkan semakin rendahnya faktor daya (Cosphi) pada instalasi listrik tersebut.
Ada 3 macam Daya pada instalasi listrik 3fasa, yaitu:
Daya Semu (KVA)
Daya Aktif (KW)
Daya Reaktif (KVAr)
Penjelasan mengenai 3 jenis Daya
Besarnya daya reaktif akan menentukan seberapa besar daya Aktif yang dihasilkan, semakin besar daya reaktif akan menyebabkan Daya Aktif yang dihasilkan semakin kecil dibandingkan dengan Daya Semu.
Faktor Daya (Cosphi) adalah Perbandingan Besar daya Aktif (KW) dengan Daya Semu (KVA)
Perbandingan antara besar Daya Aktif dengan Daya semu inilah yang disebut dengan faktor daya (Cosphi).
Kondisi yang terbaik adalah Jika Daya reaktif pada instalasi listrik adalah 0 KVAr, maka faktor dayanya adalah 1, sehingga besar daya Aktif adalah sama dengan Daya Semu.
Namun tentunya hal ini tidak mungkin terjadi, karena berbagai peralatan listrik yang digunakan pada instalasi listrik 3 fasa akan menghasilkan Daya harmonik dan tentunya menimbulkan Daya reaktif.
Namun, sebisa mungkin Daya reaktif yang dihasilkan harus diminimalkan, untuk mendapatkan faktor daya (Cosphi) minimal lebih besar dari 0,85.
Cosphi >0,85
Seperti halnya jika suatu industri menggunakan Listrik dari PLN, semakin rendah faktor daya maka akan semakin besar tagihan listrik yang harus dibayar oleh pihak industri tersebut kepada PLN.
Oleh karena itulah Pihak PLN hanya akan mengenakan biaya kelebihan Daya Reaktif (KVArh) jika faktor daya (Cosphi) instalasi listrik suatu Industri lebih kecil dari 0,85.
Untuk menghindari biaya listrik industri yang semakin melonjak, maka faktor daya listrik suatu industri harus diperbaiki dan diharapkan lebih besar dari 0,85.
Cara untuk memperbaiki faktor daya tersebut adalah dengan memasang Capasitor Bank pada instalasi listrik tersebut. Cara memasang Capasitor Bank pada listrik 3fasa
Namun untuk melakukan perbaikan faktor daya, terlebih dahulu kita harus mengetahui seberapa besar Daya reaktif yang dihasilkan.
Cara menghitung kebutuhan Capasitor Bank pada listrik 3 fasa
Bagaimana Cara menghitung Total Daya Reaktif yang dihasilkan pada suatu Instalasi listrik 3 fasa?
Untuk mengetahui seberapa besar Daya Reaktif, kita dapat menggunakan cara sederhana perhitungan Daya Reaktif Berikut ini:
Rumus Sederhana menghitung Total Daya reaktif suatu Instalasi listrik 3 fasa
Rumus menghitung Daya Reaktif:
Q = √S² - P²
Q: Daya Reaktif (KVAr)
S: Daya Semu (KVA)
P: Daya Aktif (KW)
Untuk lebih jelasnya, kita akan coba membuat contoh perhitungan Daya Reaktif suatu instalasi listrik 3 phase.
Contoh Perhitungan Total daya Reaktif
Sebuah Pabrik yang menggunakan instalasi listrik 3 phase untuk mengoperasikan berbagai peralatan listrik dan mesin produksinya.
Listrik yang digunakan pada Pabrik tersebut berasal dari Listrik PLN, dengan daya terpasang sebesar 250KVA, tegangan 380Volt, Faktor Daya (Cosphi) sebesar 0,80 (Pengukuran Faktor Daya (Cosphi) dilakukan Saat pabrik tersebut beroperasi dengan beban puncak).
Diketahui:
S = 250KVA
P = 250KVA x 0,80 =200KW
Berapa Daya Reaktif instalasi listrik Tersebut?
Q = √S² - P²
Q = √250² - 200²
Q = √62.500 - 40.000
Q = √22.500
Q = 150KVAr
Dari perhitungan diatas didapat bahwa pada suatu instalasi listrik 3fasa dengan Daya terpasang sebesar 250KVA, Faktor Daya 0,80, Daya Reaktif sebesar 150KVAr.
Perbaikan Faktor Daya
Karena Faktor Daya yang ingin dicapai adalah harus lebih besar dari 0,85, agar kualitas daya menjadi lebih baik dan menghindari biaya tambahan tagihan listrik yang disebabkan dari kerugian daya tersebut, maka solusinya adalah memasang Kapasitor Bank pada Instalasi listrik Pabrik tersebut.
Berapa kebutuhan KVAr Capasitor Bank yang harus dipasang agar faktor daya yang sebelumnya hanya 0,80 dapat diperbaiki menjadi 0,90?
Rumus menghitung kebutuhan Capasitor Bank
Qc = Q1 - Q2
Qc = Daya Reaktif Kapasitor Bank yang dibutuhkan
Q1 = Daya Reaktif sebelum perbaikan
Q2 = Daya Reaktif yang ingin dicapai
Setelah kita mengetahui besar Daya Reaktif (Q1) yang dihasilkan adalah 150KVAr, selanjutnya untuk melakukan perbaikan Faktor Daya dari yang sebelumnya hanya 0,80, dan ingin kita perbaiki menjadi 0,90. kita harus melakukan perhitungan Daya reaktif (Q2) jika Faktor Dayanya menjadi 0,90.
Menghitung Daya Reaktif yang ingin dicapai (Q2)
Diketahui:
P = 200KW
Cosphi yang ingin dicapai adalah 0,90
Maka S = 200KW : 0,90
S = 222,22 KVA
Berapa Daya Reaktif jika Cosphi diperbaiki menjadi 0,90?
Q = √S² - P²
Q = √222,22² - 200²
Q = √49.381,7 - 40.000
Q = √9.381,7
Q = 96,85KVAr
Maka, dapat dihitung Kebutuhan Capasitor Bank untuk memperbaiki faktor daya yang sebelumnya 0,80 menjadi 0,90 adalah:
Qc = Q1 - Q2
Qc = 150KVAr - 96,85KVAr
Qc = 53,15KVAr
Setelah kita lakukan perhitungan didapat bahwa untuk memperbaiki Faktor Daya yang sebelumnya 0,80 menjadi 0,90 pada instalasi listrik pabrik tersebut, dibutuhkan Kapasitor Bank sebesar 53,15KVAr.
Selanjutnya, untuk memperbaikinya kita dapat memasang Capasitor Bank yang nilainya sesuai dengan Total Daya Reaktif tersebut.
Semoga bermanfaat!
Langganan:
Postingan (Atom)















